A Journey to Ethiopia bab 5 - Keadilan Universal & pandangan Afrosentris Zion dalam Rastafari

“We are confident in the victory of Good over evil” - Kaisar Haile Selassie Etiopia

image the Lion of Judah speaks

image sang Diraja saat kunjungannya ke negeri Jamaika.  Di foto ini terliat beliau sedang bertemu dengan seorang Rastaman.


image sang Raja Reggae Bob Marley & Raja diRaja Haile Selassie sebagai latar belakang.

 

                       

                        Dengan penuh kepercayaan & ketekadan sang Diraja Etiopia, Haile Selassie menyatakan bahwa bangsa Afrika akan percaya diri menang melawan kejahatan.  Ia menyampaikan pernyataan ini kepada hadapan PBB pada 1968 soal serangan Fasis Italia terhadap Etiopia,  ia juga menyuarakan bahwa akan bangkitnya Afrika dengan jiwa yang baru.  Spirit & fondasi Afrosentris & African Unity (solidaritas antar sesama bangsa Afrika) telah diabadikan di tembang lagu Bob Marley berjudul “War”, yang dalam kenyataan lirik lagu tersebut didasarkan oleh Pidato sang Kaisar.  Indonesia & Etiopia memiliki hubungan diplomatis yang sangat baik, Etiopia salah satu negara yang hadir saat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 1955 diselenggarakan, bahkan Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno bertemu dengan sang diraja Haile Selassie saat konferensi pertama Gerakan Non-Blok (Non-Alignement Movement) diadakan di Beograd, Yugoslavia tahun 1961.

                        12 Mei 2012 atas gagasan Duta Besar RI Bapak Ramli Saud yang ditugaskan di Addis Ababa, program kultural F.O.I. (Friends of Indonesia) diselenggarakan kembali di Ibukota Etiopia.  Saya sangat bersyukur bisa menjadi bintang tamu & juga turut serta di program kultural tersebut.  F.O.I. ini terdiri dari pengusaha yang punya bisnis dengan Indonesia, warga negara Etiopia yang pernah ikut program beasiswa & kalangan diplomatik yang simpatis atau pernah berkerja/berkunjung ke Indonesia.  Namun 12 Mei 2012 adalah peluncuran program baru F.O.I. di mana mahasiswa Etiopia bisa belajar & mengambil kursus Bahasa Indonesia,  saya juga senang mendengar program ini karena sebagian besar lirik dalam musik saya dalam Bahasa Indonesia.  Saya cukup penasaran bagaimana tanggapan hadirin F.O.I. & juga para mahasiswa Etiopia soal musik Reggae yang akan saya persembahkan.  Sebagian besar orang Etiopia terutama generasi muda tahu bahwa musik Reggae terinspirasi oleh sejarah Etiopia & pemimpin terkemuka Afrika yaitu Emperor Haile Selassie; sebaliknya rakyat Jamaika  tepatnya pergerakan Rastafari melihat bahwa Etiopia adalah tanah perjanjian bagi bangsa kulit hitam yang mengalami diaspora akibat perbudakan & kolonialisme.  Jadi cukup berat tugas saya untuk menampilkan musik Reggae ala Indonesia, terlintas di benak apa akan asingkah mereka dengan nuansa yang akan saya sampaikan saat manggung?  Di manakah titik temu antara Reggae, Indonesia & Etiopia?  Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab pada hari program baru F.O.I. dilaksanakan.

                        image panggung yang disiapkan untuk event F.O.I. 12 Mei 2012

                        Ada 3 konsep yang direncanakan saat saya pentas di F.O.I., pertama dengan minus-one/playback, kedua dengan band yang telah disediakan oleh KBRI (Kedutaan Besar RI) Etiopia & terakhir kolaborasi dengan seorang musisi Etiopia bernama Ras Mohle.  Saya melakukan latihan dengan band sehari sebelum kami ke Addis Ababa University & setelah kembali dari Shashamene & Awasha.  Saat saya ingin melihat aula yang akan digunakan untuk acara tersebut, ada 3 orang Etiopia yang sedang sibuk latihan untuk menjadi pemandu acara.  2 dari mereka adalah, seorang perempuan bernama Genet & Danny seorang lelaki, mereka sangat hangat menyambut saya & cukup penasaran bertemu dengan seorang musisi Reggae dari Indonesia.  Ternyata selain mereka menjadi pemandu acara program F.O.I. mereka juga merupakan staff lokal KBRI Etiopia, jadi bisa dilihat bahwa Indonesia tetap menjalani hubungan erat dengan Etiopia & tidak menjauhkan diri dari saudara-saudara kita di Afrika.  Genet berkata kepada saya “Welcome to Ethiopia”, saya menjawabnya dengan “Hamasegenalo” yang artinya terima kasih dalam bahasa Amharik Etiopia, ia pun tertawa bagaimana saya sudah belajar untuk menyebut kalimat itu. Kami pun berempat lanjut berbincang & mereka menanya kenapa saya ingin ke Etiopia, saya menjawab bahwa Bob Marley & musik Reggae yang mendorong saya ke sini.  Sepertinya orang Etiopia sangat tersanjung bahwa ada pulau kecil di Karibia, Jamaika yang puluhan ribu kilometer jauhnya melahirkan sebuah musik yang bernama Reggae.  Reggae mengadopsi identitas kerajaan Etiopia, warna merah-emas-hijau yang sebetulnya dasar warna bendera Etiopia menjadi indentik dengan imej Reggae secara universal.

image saat melakukan ceksound

image

image

                       

                        Danny berkata kepada saya bahwa ia sangat menghargai Reggae & musisi-musisi yang sangat menjiwainya karena berkat Reggae & pergerakan Rastafari, Etiopia akan selalu baik di mata dunia.  Ia bilang jika melihat definisi Rastafari di kamus saat ini, akan selalu dihubungkan dengan Etiopia sebagai tanah harapan bangsa kulit hitam; begitu juga dengan Haile Selassie.  “Semua ini berkat Reggae & sangat bagus jika musik ini makin mendunia karena generasi muda Etiopia akan lebih mengenal Kaisar Haile Selassie & negerinya sendiri.  Di pandangan saya secara pribadi Kaisar Haile Selassie adalah pemimpin yang hebat” ujar saudara Danny.  Ia menjelaskan bahwa di puncak kudeta komunis & jatuhnya dinasti Sulaiman di Etiopia, saat Kaisar di rumah pengasingan, beliau hanya meminta dikirimi buku-buku bacaan.  Danny melihat bahwa Kaisar Haile Selassie berfikiran progresif yang selalu mementingkan pendidikan bagi bangsanya.  Atas perbincangan saya dengan Danny & Genet,  saya dapat masukan bahwa saya harus mengunjungi Addis Ababa University karena di situ ada museum yang dulu dijadikan istana Rastafari Haile Selassie.

                        imageBob Marley dengan jaket kesayangannya, tri-warna Merah-Emas-Hijau, dasar warna bendera Etiopia

image

image



                        “Reggae music is King Music” adalah salah satu ucapan Bob Marley yang saya yakini selalu sebagai seorang Duta Reggae, bahwa musik Reggae sebetulnya memiliki pesan-pesan kemanusiaan yang sangat dalam, bahwa musik Reggae adalah musik yang berdiri di atas segala jenis musik yang lain.  Kenapa saya yakini itu ? Dari seluruh musik modern yang telah diciptakan di dunia hanya Reggae yang bisa beradaptasi ke setiap budaya di mana ia menyentuhnya.  Di Eropa, Amerika Latin, Rusia, Jepang, Eropa Timur “King Music” ada.  Bukan hanya sebatas irama tetapi makna yang positif adalah fondasi musik Reggae.  Selain perkataan Bob Marley soal “King Music” saya yakin bahwa yang ia maksud adalah sang Diraja, yang berarti setiap musisi, pendengar & pecinta musik Reggae harus sadar ini musik yang dimainkan untuk sang Diraja Kaisar Haile Selassie & negerinya Etiopia.  Maka itu saya tekankan bahwa sejarah Etiopia lah yang menginspirasi musik Reggae & telah dijadikan tradisi dalam musik tersebut untuk selalu menghormati negeri pelangi di Afrika ini.

                       

                        Mungkin masyarakat awam tidak mengenal musik Reggae sebagai musik yang spiritual, musik yang sebetulnya “diasuh” & dikembangkan oleh pergerakan Rastafari.  Rastafari selalu menyuarakan Afrika sebagai tempat asal-muasal bangsa kulit hitam & awalnya peradaban, bisa disebut pergerakan Rastafari menggantikan “armed struggle”/perjuangan bersenjata dengan “spiritual struggle”.  Contohnya seperti saat pergerakan Rastafari tumbuh-kembang di Jamaika setelah era Perang Dunia II, Jamaika masih berada di dalam kekuasaan belenggu pejajahan kolonial Inggris & Ratu Elizabeth sebagai pusat kekuasaan itu.  Pergerakan Rastafari menyuarakan bahwa bangsa kulit hitam di Jamaika tidak takluk dengan seorang Ratu berkulit putih di Inggris, Elizabeth bukan ratu bangsa kulit hitam.  Gerakan Rastafari lalu menyuarakan “Hei, bangsa kulit hitam ! tahukah kau memiliki seorang Raja ? Ia namanya Kaisar Haile Selassie, Kaisar dari Etiopia keturunan langsung dari David (Dawud) & Solomon (Sulaiman) !”.  Contoh yang lain adalah prinsip “don’t trade a continent for an Island” yang dimaksud jangan tukar sebuah benua Afrika dengan sebuah pulau kecil Jamaika, sadar bahwa bangsa kulit hitam memiliki Afrika dari sejarah & budayanya. Ini yang bisa disebut sebagai pandangan Afrosentris dalam musik Reggae.  Sebelum saya mengenal musik Reggae & filosofi Rastafari,  tokoh Afrosentris yang saya kenal saat masih muda adalah Malcolm X.  Beliau seorang Muslim yang memperjuangkan hak-hak kulit hitam di Amerika, ia mengganti nama Malcolm Little  menjadi X yang artinya “unknown”, tidak diketahui karena akibat 400 tahun dalam perbudakan bangsa kulit hitam dihapus identitasnya, dihapus agamanya, dihapus bahasanya & budayanya.  Ayahnda Malcom X pun seorang Garveyite, pengikut sejati ajaran-ajaran Marcus Garvey  yang menjunjung tinggi negeri Afrika & tepatnya Etiopia.  “Ethiopia as the Promised Land” tanah perjanjian, tanah harapan bagi bangsa kulit hitam yang telah “diculik” jauh & tercerai-berai oleh kolonialisme.


image 3 tokoh utama dalam pergerakan Rastafari. Marcus Garvey, Kaisar Haile Selassie & Bob Marley
                       

                        Danny memiliki cerita yang cukup menarik bahwa ia pernah bertemu seorang Rastaman dari Karibia yang hijrah ke Addis Ababa.  Rastaman itu tidak memakai alas kaki sama sekali, lantas Danny bertanya mengapa? Ia dijawab dengan ” I am in the Holy Land ! ” bahwa Etiopia adalah tanah suci & spiritual birthplace.  Harus diketahui bahwa pergerakan Rastafari menggunakan kata “Zion” & “Babylon”, “Babylon” sebagai tempat penindasan, belahan dunia barat, kolonialisme, kepalsuan & jauh dari spiritualisme.  Kata “Zion” dalam pergerakan Rastafari & juga yang sering digunakan di syair-syair Reggae bukan berpatok kepada timur tengah Jerusalem & Israel.  Sama sekali kata “Zion” di Reggae & Rastafari bukan berarti “Zionisme” ala Israel, bukan pakta Zion, bukan Yahudi & bukan negara Israel.  Kata “Zion” dalam Rastafari harus dilihat dalam sudut pandang Afrosentris, bahwa Zion yang dimaksud bukan menuju ke timur tengah, negara Israel tetapi AFRIKA sebagai tanah perjanjian bangsa kulit hitam & ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yahudi & Judaisme.  Saya pun menafsirkan bahwa Zion bukan hanya Afrika sebagai tanah perjanjian bangsa kulit hitam tetapi “Zion” bisa disamakan dengan “Nirwana”, tingkat pencerahan tertinggi & hanya insan yang mencapai tingkat itu bisa memasuki & menduduki “Zion”.  Nabi Muhammad berkata bahwa Kabbah di Mekah adalah Sahyun, bahasa Arab yang berarti Zion.  Makna “Sahyun” adalah pusat spiritual, spiritual center & spiritual homeland, bagi Muslimin kita menyalurkan enerji kepada kiblat yang letaknya di Sahyun, Mekah. Ya, tidak usah risau & panik soal mana yang benar, ada yang memanggilnya Surga, Heaven, Paradise atau Nirvana.  Yang penting kita tidak melihat “Zion” di Reggae dalam sudut pandang chauvinist & sempit.  Berikutnya adalah beberapa kutipan syair lagu-lagu Reggae yang menggunakan kata Zion.

                       

 

“Holy Mount Zion, Holy Mount Zion. Jah sitteth in Mount Zion & ruleth all creation” - Bob Marley ” Jammin’ “

“Bukit Kudus Zion, Bukit Kudus Zion.  Tuhan menduduki Bukit Zion & menguasai segalanya”

 

“I got to keep on walking on the road to Zion” - Damian Marley “Road to Zion”

“Ku harus tetap berjalan menuju jalur Zion”

 

“I have to to be Iron like a Lion in Zion” - Bob Marley, “Iron Lion Zion”

“Ku harus menjadi besi yang kuat seperti Singa dari Zion”

 

“Fly away home to Zion ” - Bob Marley, “Rastaman Chant” traditional Nyabinghi Hymn

“Pulang terbang kembali ke Zion”

 

” The Rasta come from Zion. Rastaman a Lion” - Bunny Wailer, “Rastaman”

“Rasta berasal dari Zion. Rastaman bagai seekor Singa.”

 

“Ethiopia stretch her hands right now (unto God), calling for all to come on home” - Yabby You, “Zion Gate”

“Ethiopia mengulurkan tangannya (kepada sang Illahi), memanggil kita untuk segera pulang”

 

” Christians call it heaven.  Rasta call it Zion, that’s where man live again” - Anthony B “Defend my own”

“Nasrani memanggilnya Surga.  Rasta memanggilnya Zion, di mana insan hidup kembali”

 

“Trod up a Zion fi go see wehh ah gwaan” - Junior Reid “Trod up a Zion”

“Berjalan menuju Zion untuk melihat apa yang terjadi di dunia”

 

“I got to reach Mount Zion, the highest of region” - Bob Marley “Duppy Conqueror”

“Ku harus mencapai bukit Zion, wilayah/tingkat tertinggi”

 

“Ethiopia the capital fi di congression & dehh so I belong ah dehh di King come from” - Damian Marley “Land of Promise”

“Ethiopia pusat untuk kongres benua Afrika & itu di mana aku harus berada karena sang Emperor berasal dari situ.”

 

“Yea, we marching onward to Zion. wonderful city of JAH.” - Luciano “unto Zion”

” Ya, kita berjalan menuju Zion, kota indah Jah”

 

” I saw Zion in a vision !” - Garnett Silk “Zion in a vision”

“Ku melihat Zion dalam visiku”

 

“the victory must be won… Africa ! Forward Home ! Mamma Africa is our destiny” - Lutan Fyah & Ras Shiloh “Motherland Calling”

“Kita layak menang… Afrika ! Maju ke tempat asal-muasal kita ! Mama Afrika adalah tempat yang ditakdirkan”

 

“Zion High await us all.  Mamma Ethiopia, i hear you call.  Mamma Ethiopia, i aim for.” - Jah Cure “Zion Await”

“Zion menunggu kita semua.  Mamma Ethiopia, ku dengar panggilanmu.  Mamma Ethiopia, tujuanku”

 

” Send us another brother Moses, going to cross the Red Sea” - Bob Marley

” Kirimkan kami Nabi Musa yang kedua untuk menyeberangi Laut Merah”

 

“By the rivers of Babylon, there we sat down & yea we wept when we remember Zion” - Bonney M yang diambil dari lagu tradisional Nyabinghi.”

” Di pinggir-pinggir sungai Babylon, di mana kami merenung & menangis saat mengenang Zion.”

 

“Tegar tak bisa digoncangkan bagai Bukit Zion… itu karunia Ilahi dari Bukit Zion.” - Ras Muhamad, “Berjaya”

 

            Masih ada ribuan lagu Reggae yang menggunakan kata Zion & pastinya tidak bermaksud menyuarakan panji-panji Israel (minus artis Reggae Yahudi-sentris Matisyahu).  Zion dalam pergerakan Rastafari adalah tempat asal-muasal bangsa kulit hitam di mana ia “diculik” oleh Babylon, dicuci otak & dihapuskan identitasnya.  Di mana bila kita sendiri menepis soal Zion dalam Rastafari & hubungannya dengan Afrika ya, kita sendiri bermentalitas Babylon yang mendukung penindasan terhadap bangsa kulit hitam.  Malcolm X berkata “Mereka (kaum kulit putih) menuduh kami mengajarkan kebencian terhadap kaum kulit putih.  Lalu saya kembalikan kepada mereka, siapa yang mengajarkan kami untuk membenci kulit kami sendiri ? membenci paras kami sendiri? membenci apa yang Tuhan telah ciptakan, bahwa sebetulnya kami ini bangsa kulit hitam.  Mereka mengajarkan bahwa kulit putih lebih superior & derajatnya lebih tinggi dibanding kulit yang lebih gelap.  Kami katakan kepada mereka bahwa bangsa kulit hitam setara derajatnya dengan bangsa kulit putih bahkan lebih baik dari bangsa Eropa, si kulit putih yang telah memporak poranda dunia dengan kolonialisme !!! “

            image Hajj Malik Al-Shabazz Malcolm X

image Malcolm X dengan muridnya, Muhammad Ali

            Jika kita melihat apa yang Malcolm X katakan, kita bisa terapkan sudut pandang Afrosentrisme ini di dalam masyarakat Indonesia.  Bisa kita analisa bahwa kita sebagai bangsa Indonesia telah terkondisi bahwa kulit “cerah” & kulit yang putih lebih baik.  Impian para lelaki Indonesia pun tentang perempuan yang ideal adalah perempuan Indonesia yang kulitnya putih, bahkan dalam periklanan perempuan Indonesia digempur terus untuk “memutihkan” kulitnya.  Lantas bagaimana dengan jutaan Sarinah kita yang berkulit gelap & “sawo mateng”? Kurang cantikkah mereka ? Apa Sarinah kita, perempuan Indonesia harus memiliki “features”/tipe yang sama seperti wanita dari Eropa ? Berkulit putih, bermata biru/hijau & berambut pirang ?  Banggakah kita jika berkulit gelap, berambut ikal & bermata coklat gelap ?.  Saya kutip Marcus Garvey yang menanamkan fondasi Afrosentris di dalam pergerakan Rastafari bahwa “BLACK IS BEAUTIFUL”.  Ya, Hitam itu indah sama dengan putih.  Marcus Garvey mengajarkan bangsa kulit hitam untuk mencintai diri mereka sendiri, kita pun sebagai bangsa Indonesia bisa memetik ajaran Afrosentris ini.  Bahwa sebelum ada raja-raja & ratu-ratu di Inggris, Spanyol, Belanda & seterusnya; ribuan tahun sebelum itu ada kerajaan-kerajaan Mesir,Nubia & Axum (Sheba) yang semuanya berkulit gelap.  Nasionalisme Indonesia Bung Karno pun mengajarkan ini bahwa kita “bukan bangsa kuli, bukan bangsa tempe”, ingat bahwa rakyat Jawa yang berkulit “sawo mateng” di sudut pandang penjajah Belanda dianggap bahwa orang Jawa seperempat manusia & sisanya hewan.  Ingat bahwa penjajah kolonial Belanda menganggap bahwa “inlander”/pribumi Indonesia hanya layak untuk diludahi.  Begitu kejam & merendahkannya kolonialisme bagi bangsa Indonesia,  saya pun penasaran dengan perlakuan apa saja yang dilakukan oleh kolonial Belanda terhadap nenek-kakek moyang kita yang telah ditindas 350 tahun lamanya.  Karena dengan tingkat kesadaran itu, kita bisa betul-betul menghapuskan mentalitas kolonialisme Babylon yang masih tersisa di dalam diri kita.  Nasionalisme bukanlah sebatas mengibar bendera atau sebagai identitas kewarganegaraan yang tercantum dalam paspor.  Nasionalisme bukan sebatas perkataan cinta dengan Indonesia tetapi mata berkilau saat melihat orang kulit putih.  Nasionalisme utama adalah jiwaraga di dalam setiap rakyat Indonesia, maka itu Presiden Sukarno sangat menggalakkan “Nation & Character Building”

            image Bapak Marhaen Indonesia, Presiden Sukarno, Pemimpin Besar Revolusi

            Sebuah penghormatan saat saya bisa tampil di event F.O.I. yang diselenggarakan di Addis Ababa, Etiopia.  Selain mengharumkan nama Indonesia, saya sebagai musisi Reggae melihat bahwa ini untuk pertama kalinya seorang musisi Reggae Indonesia tampil di tempat fondasi & pusat inspirasi musik Reggae.  Jika tri-tunggal Merah, Emas & Hijau berkibar ya saya berada di tempatnya “I am Home” & saya merasa sambutan yang sangat hangat dari orang Etiopia yang menyaksikan saya tampil.  Ada beberapa pertanyaan di antara mahasiswa Etiopia apakah saya orang Jamaika yang lahir di Indonesia ? Saya hanya bisa tersenyum mendengar hal itu, saya seorang putra Indonesia yang bersyukur bisa belajar banyak & mendalami Rastafari & musik Reggae.  Atas permintaan Ibunda saya yang juga mencintai musik Regggae, beliau berkata bahwa acara F.O.I. sangat pas jika saya membawakan lagu “War”-nya Bob Marley karena liriknya didasarkan dari pidato sang Kaisar Etiopia.  Saya pun setuju & saya persembahkan lagu “War” dalam sebuah kolaborasi dengan musisi Reggae Etiopia, Ras Mohle.  Saya sampaikan kepada hadirin F.O.I. di tempat bahwa lagu Bob Marley ini didasarkan oleh “The Words of the King”, kata-kata sang Diraja.  Menurut saya, kata-kata Kaisar Haile Selassie di lirik “War” adalah nilai-nilai & kebenaran mutlak soal kemanusiaan bagaimana ia mencapai sebuah perdamaian di dunia.  Banyak ajarannya yang bisa dipetik dari kata-kata yang sangat dahsyat oleh Kaisar Haile Selassie, andai kita sanggup menyikapi & mewujudkannya kita bisa mengerti akan adanya “UNIVERSAL JUSTICE”.  Berikutnya adalah syair dari lagu “War”.

“until the philosophy which hold one race superior & another inferior is finally & permanently discredited & abandoned. (everywhere is war)

until there are no longer first-class nor second-class citizens of any nation.

until the color of a man’s skin is of no more significance than the color of his eyes.

until the basic human rights are equally guaranteed to all without regard to race.

until that day the dream of lasting peace world citizenship & the rule of international morality shall remain in but a fleeting illusion to be pursued to never attained.

until that day the African continent shall not know peace, we Africans will fight if find necessary.  we know we shall win as we are confident in the victory of good over evil”

(perang akan tetap berlangsung di mana saja)

hingga dihentikannya filosofi yang memandang bahwa suatu bangsa lebih superior dari bangsa lain

hingga tak ada lagi penduduk dunia yang merasa kelas satu, yang lain kelas dua;

hingga warna kulit seorang manusia tidak lebih penting dari warna bola matanya;

hingga dasar hak asasi manusia dijamin tanpa memandang ras/golongan;

tibalah saatnya, impian tentang terciptanya perdamaian yang abadi bagi umat manusia dan terciptanya tatanan moral internasional, namun jika hanya menjadi sekedar ilusi maka cita-cita tersebut tidak akan tercapai,

jika demikan benua Afrika tidak dapat mencapai perdamaian, jika diperlukan kami bangsa Afrika akan berjuang.

Kami tahu kami akan menang karena kami percaya bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan.

                        Sebuah kata-kata yang menggambarkan impian dunia tanpa perang, tanpa rasisme & diskriminasi.  Saya pun sebagai musisi Reggae Indonesia berusaha menerapkan kata-kata sang diRaja Haile Selassie ke dalam syair “Tanah Perjanjian”, sebuah lagu yang diciptakan oleh Glenn Fredly, Saya & Wisnu “Wizzow” Prastowo.  Lagu “Tanah Perjanjian” mengangkat soal saudara-saudara kita di Papua yang hingga kini bisa disebut diperlakukan sebagai warga negara Indonesia “Kelas B” oleh sistem negara yang dimaksud Kaisar Haile Selassie “second-class citizen”.  Betul sekali dengan perkataan bahwa adanya “First-class & second-class citizen” , warga negara kelas A & B akan selalu terjadi pertentangan & pertikaian;  maka itu muncul gerakan separatis yang ingin independen dari Republik.  Saya hanya bisa mengingatkan dalam lagu “Tanah Perjanjian” akan PancaSila yang “semestinya” menjadi kenyataan di seluruh wilayah Republik Indonesia.  Saya gabungkan jiwa Nasionalisme & ajaran Kaisar Haile Selassie di lirik berikut dari lagu “Tanah Perjanjian”

“Keadilan sosial semestinya terbagi rata.

tak memandang kulit, kelas bahkan bola mata.

di hadapan Illahi kita semua ini sama.

yang membedakan kita hanya dosa & pahala”

                        Kalimat pertama saya tafsirkan dari sila kelima dasar negara Indonesia & kalimat kedua saya ambil dari kata-kata Kaisar Haile Selassie di lagu “War”-nya Bob Marley.  Kalimat ketiga saya kutip dari kalimat Rastafari Haile Selassie, beliau berkata “EQUAL IN THE EYES OF THE ALMIGHTY” bahwa semua manusia diciptakan setara derajatnya karena masing-masing memiliki kelebihan & kekurangan tertentu & pada akhirnya hanya amal-ibadah & perbuatan kita yang akan dinilai.


image His Excellency Ato Ramli Saud saat membuka acara F.O.I.

image

image

image dengan Tibebe Selassie, seorang jurnalis yang mewawancarai saya.

image  Big up ! Jah Love !!!

 

                        Semoga sejauh ini dalam catatan saya, apa yang saya harapkan agar musik Reggae tidak hanya dipandang sebagai sebatas genre musik, bukan sebagai musik pantai untuk menghibur turis saat liburan.  Dari Indonesia melintasi Jamaika lalu ke tempat awalnya peradaban yaitu Etiopia, Afrika.  Mengajarkan “Universal Justice” & berkata , saya kutip penyanyi Reggae Ras Shiloh “UNTO ZION WE GO !”



*lagu War Bob Marley bisa disimak di http://www.youtube.com/watch?v=vPZydAotVOY

3

A Journey to Ethiopia bab 4 - Haile Selassie I University

a Journey to Ethiopia bab 4

Haile Selassie I University

image

“This not His-story. this my Story, I-story.  History that they won’t teach you ina school.”  Bob Marley meluruskan soal apa yang ia yakini dalam pandangan afrosentris & pergerakan Rastafari.  Beliau mengatakan bahwa apa yang Rastafari sampaikan adalah sebuah sejarah yang dilupakan & kenyataan yang telah disembunyikan.  History/sejarah yang diajarkan sekolah terkadang adalah cerita yang bias, hanya diangkat satu sisi saja.  Maka Raja Reggae Bob Marley menyatakan “ini bukan his-story, bukan sejarah yang lazim diajarkan sekolah.  Bukan his-story, bukan cerita DIA yang suka menjajah bangsa-bangsa lain.”  Kebenaran yang saya ingin kemukakan kepada pembaca budiman adalah satu sejarah yang telah terlupa, warisan peninggalan sang Kaisar Haile Selassie Etiopia, tokoh pusat pergerakan Rastafari.  Salah satu dari sekian peninggalan sang Emperor dari berbagai gagasan, spirit, jasa & bentuk materi. Yang cukup menakjubkan adalah warisan beliau kepada generasi muda & penerus hari esok di Etiopia, angkatan muda disumbangkan sebuah komplek istana megah yang dahulu digunakan sebagai istana pribadi sang Emperor.  Istana sang Kaisar ini bernama Gannata Leul Palace yang kini digunakan sebagai Universitas Addis Ababa, Etiopia.  Saat era dinasti Sulaiman, universitas ini bernama “Haile Selassie I University” yang diberikan sebagai wujud kenyataan gagasan sang Kaisar betapa pentingnya pendidikan bagi bangsa, universitas ini pun terbuka untuk digunakan publik.  Siapapun bisa memijakkan kaki di istana “Gannata Leul Palace” ini,  tak peduli jika kita berkulit hitam, putih, sawo mateng, pirang, merah, balita, uzur, professor atau tukang kebun berkat gagasan Kaisar Haile Selassie dipersilahkan masuk.  Maka itu saya, Ibunda, kawan Chandra & Ato G masuk.  Terlihat di koridor masuk ada beberapa arsip foto-foto yang terletak di kanan koridor ; foto-foto tersebut menampilkan saat universitas masih bernama Haile Selassie I University, beliau & keluarganya begitu aktif turut-serta dengan aktifitas mahasiswa Universitas.

 

 image

 * Kaisar Haie Selassie dengan wisudawan di Haile Selassie University I (Ganata Palace) ; perhatikan 2 patung di belakang kiri-kanan

image

*Haile Selassie I University kini Addis Ababa University.  dari kamera pribadi saya

image

*2 Ambassa/Lion of Judah mengkhiasi bagian depan Ganata Palace, di tengah-tengahnya “Coat of Arms” dinasti Sulaiman Etiopia.

image

* kaos “Coat of Arms” dinasti Sulaiman Etiopia yang saya miliki, saya dapat sewaktu tinggal di New York City.  Saya sedikit lupa kapan saya dapatkannya, mungkin di antara tahun 2003-2004.

image

*pintu gerbang Haile Selassie I University, di tengah ada “Coat of Arms” Solomonic Dynasty.  Menunjukkan 2 Malaikat yang menjaga tahta Daud / Throne of David

image*yang baru saja tiba di depan Ganata Palace, Addis Ababa University (Haile Selassie I University).  Saya berada di sebuah istana yang disumbangkan oleh seorang kepala negara untuk penggunaan pendidikan tinggi bangsanya.


       Di foto-foto yang terletak di bagian kanan koridor utama, nampak sang Emperor berjalan dengan para wisudawan saat dalam upacara.  Ada bebarapa foto-foto orang-orang terhormat yang mengunjungi Universitas saat era Emperor Selassie I,  salah satu pengunjungnya adalah Ratu Elizabeth Inggris & Presiden Khwame Nkhruma, sahabat dekat sang Emperor dari Ghana sekaligus pejuang Pan-Afrikanisme.  Foto-foto yang lain menjelaskan bahwa “Gannata Leul Palace” ini awalnya milik Ras Makonnen yang diwariskan kepada putranya, Ras Tafari Haile Selassie.  Dijelaskan di foto-fotonya bahwa gedung-gedung yang lain di kompleks istana ini dulu digunakan sebagai tempat tinggal para pelayan, Imperial Guard (Penjaga Kerajaan) bahkan sebuah percetakan.  Kini gedung-gedungnya dijadikan fakultas kuliah untuk digunakan secara umum bagi mahasiswa, salah satunya adalah sebuah gedung yang dahulu disita oleh Fasis Italia kini dijadikan fakultas jurusan hukum.

 

image

*dikanan terlihat para tamu-tamu terhormat yang telah mengunjungi Universitas/Istana ini

image

*sejarah istana “Ganata”, foto paling kanan Yang Terhormat Ras Makonnen, Ayahnda Ras Tafari Kaisar Haile Selassie Etiopia

 image

* Ras Makonnen & Ras Tafari , Ras artinya Pangeran atau Ketua dalam bahasa Amharik Etiopia.  Sebuah titel para bangsawan Etiopia

image

* Ras Tafari saat upacara menduduki tahta Daud, ia mengambil nama Haile Selassie I

       Setiap upacara wisuda sang Emperor selalu hadir untuk memimpin upacara para mahasiswa yang sukses lulus menempuh pendidikan tinggi.  Dijelaskan di foto-foto bahwa beliau pun memberi Beasiswa kepada pelajar asing, 40 mahasiswa non-Etiopia per tahun jumlahnya yang belajar di Haile Selassie I University ini.  Mahasiswa yang mendapat beasiswa oleh sang Emperor berasal dari Kenya, Ghana, Zanzibar, Uganda, Mesir, Liberia & Nigeria.  Sepertinya Haile Selassie I University dengan dorongan Emperor menjadi sebuah Universitas berprestasi; bagai Ivy League di barat seperti Harvard, Columbia & Stanford pada jamannya Haile Selassie I university adalah Ivy League-nya seluruh benua Afrika.

 

image

*Para Mahasiswa dari luar Etiopia yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di Haile Selassie I, sang Kaisar sedang berdiri di tengah.

image

* Kaisar Haile Selassie saat memimpin upacara wisuda di Universitas yang disumbangkan beliau.

image

*berpose sejenak dengan Mama di depan foto-foto Ras Makonnen & Ras Tafari. Boom !

   Lalu kami lanjutkan tur di gedung utama Addis Ababa University, sebetulnya gedung utama ini digunakan untuk perpustakaan para mahasiswa & museum.  Kami disediakan seorang guide yang asli orang Etiopia untuk menjelaskan apa saja yang dipamerkan di dalam museum ini,  saya pribadi tak menduga apa yang akan saya lihat saat tur di museum universitas ini; sesuatu yang kemungkinan besar Raja Reggae Bob Marley sendiri tak pernah lihat sepanjang riwayatnya.  Guide kami menjelaskan soal ke-Bhinneka-an Etiopia yang memiliki berbagai suku, adat tradisional & bahasa, penjelasannya pun mengingatkan saya kepada tanah air yang sangat kaya raya dengan ke-Bhinneka-an.  Contoh seperti kita yang memiliki berbagai suku, Etiopia begitu juga dengan 2 suku terbesarnya Amhara & Omoro.  Bahasa Amharik Etiopia pun adalah bahasa pemersatu di mana itu berasal dari bahasa Etiopia kuno, Ge’ez.  Ge’ez digunakan sebagai bahasa dari kitab-kitab Ortodoks Nasrani selain itu, guide kami juga menunjukkan kita-kitab lama & lukisan Muslim dari Etiopia.  Nampaknya Etiopia dari ratusan tahun lamanya telah menjalani kerukunan beragama.

 

imageimage *Al-Quran dari jaman awal perkembangan Islam di Etiopia


image *beberapa karya seni Islam dari Etiopia dipajang di museum Addis Ababa University


image

image *lukisan-lukisan “The Battle of Adwa” yang dipimpin Emperor Menelik II, Kakek Moyang Haile Selassie


image


image *lukisan Bunda Miriam Ortodox Nasrani

image *baju tradisional serdadu Etiopia sebelu abad ke-20


 

       Saat kami sedang menelusuri museum yang dibimbing oleh guide sekaligus mahasiswa universitas, ada seorang guru yang sedang mengajak murid-muridnya tur di museum juga.  Dia berkata kepada saya

“hey, Rastaman. dari mana kau? Jepang kah ???”, saya tersenyum karena itu sebuah dugaan yang biasa bagi saya bahwa banyak Rastaman berasal dari Jepang juga yang mengagumi sang Emperor, banyak yang menyangka saya orang Jepang atau keturunan timur tengah.

Saya membalas “dari Indonesia Pak”.

ia cukup terkejut lalu menjawab “Lho? Indonesia? sedang apa kau jauh-jauh ke sini?”.

“Mengagumi negerimu Pak & juga sang Emperor, beliau sosok yang sangat inspiratif bagi saya”

Ia pun tersenyum & membalas “Ya sudah, selamat datang di Addis Ababa”.

 

       Setelah mengelilingi bagain museum soal kebudayaan, perkembangan Islam & Ortodox Nasrani di Etiopia kami menuju ke sebuah pintu untuk memasuki bagian sayap istana yang lain.  Namun saya berhenti untuk mengambil foto berbagai cangkir yang digunakan era kerajaan. Tentunya ada gambar sang Kaisar di berbagai cangkir & piring tetapi yang paling menarik adalah sebuah piring dengan lambang  Singa/Lion of Judah di tengahnya dengan warna merah-emas-hijau.  Saya berpikir “Boom ! nah ini buktinya…  tentu piring ini lebih tua dari Reggae. Yang tidak kenal dengan Etiopia, pasti langsung menganggap ini piring berbau Reggae. Bukan, this is Ethiopian Solomonic Dynasty… yang menginspirasi Reggae.”

 

imageimage

*beberapa cangkir & piring dari kerajaan dinasti Sulaiman, Etiopia.  Reggae banget kah? haha tentu ini dibuat sebelum Reggae lahir.

image


image

image


 

       Di dalam ruangan berikut dipajang beberapa mata uang lama Etiopia “Ethiopian Dollars” atau Birr, dulu kata Ato G 1 Birr sama dengan 1 Dollar Amerika yang kini melesat menjadi 18 Bhirr per dollar  AS.  Nampak gambar sang Kaisar di berbagai mata uang Etiopia lama, sayangnya saya & Ibunda tidak sempat menemukan sisa-sisa mata uang lama untuk di bawa pulang sebagai kenang-kenangan saat menelusuri Addis Ababa.

 

image

— - — berbagai mata uang kerajaan dinasti Sulaiman Etiopia saat era Kaisar Haile Selassie

image


image

image *2 sepupu Emperor Haile Selassie, Merah-Emas-Hijau tetap tri-warna kebanggan kerajaan Etiopia & rakyatnya

image

 

       Mendekati koridor berikut dalam sayap yang baru kami telusuri dipajang 2 lukisan di bagian tembok, nampak lukisan 2 sepupu Kaisar satu seorang putri & seorang Ras/Pangeran.  Ingat bahwa titel “Ras” dalam kerajaan dinasti Solomon Etiopia bisa disamakan sebagai Pangeran atau semacam Raden Mas, walau kini kata “Ras” bisa diartikan sebagai “Si Bung berambut gimbal” dalam kebudayaan musik Reggae.  Namun melawati pintu, nampak sebuah foto; foto Empress Menen istri Haile Selassie yang begitu anggun dipajang di atas lemari yang memajang baju bekas sang Ratu.  Saya pun minta Ibunda foto di bawah lukisan itu, “Mama… foto, mama.  itu Empress Menen, Egar kan bilang Mama seperti Empress Menen di Letter to Mamma (sebuah lagu yang saya ciptakan sebagai livikasi kepada ibunda saya)”.  Lucunya saat beliau berpose di bawah foto sang Ratu, Ibunda saya bukan hanya seperti sang Ratu Kaisar Menen tetapi merupai juga.  Saya ingat komentar KaSimba/Ras Steven, sahabat saya di Oslo sewaktu saya kasih tunjuk foto ini.  “hehehe, di I deh nah see it ? I see 2 queens now, yuh Mamma deh & Empress Menen. Dem look like sisters!” kata Ras Steven, Rastaman dari Kenya Afrika ini.  ya, saya pun setuju yang KaSimba maksud.  My mamma is a queen.

 

image

 

“like Empress I-nen (Menen) a woman of royalty/ Mamma can fight a war but she still can be a lady”

 

       Di dalam ruangan di mana foto Empress dipajang, kami masih merasakan aura & enerji seorang Kaisar & Ratunya.  Ada foto beliau dengan sang istri, sebuah lukisan besar sang Emperor mengenakan sebuah busana upacara wisuda.  Jika masuk ke ruangan kanan, kita berada di kamar tidur Empress Menen, di situ dipajang berbagai busana yang pernah kenakan dari upacara adat hingga baju yang bergaya modern barat.  Suatu bukti bahwa kerajaan saat era Haile Selassie bukan sebuah kerajaan kolot yang menolak perkembangan zaman & gaya fashion.  Saya pun ingin difoto di bawah sebuah lukisan besar Empress Menen, saya ingat bahwa kaki saya sedang berpijak di kamar sang Empress Menen atau “Queen Omega” julukan pergerakan Rastafari bagi sang ratu.

 

image

— - — pakaian Sang Ratu Kaisar Empress Menen Etiopia, Istri Haile Selassie

image


 image * Empress Menen I

image

image * di kamar tidur Empress Menen, Istri sang Kaisar Haile Selassie I

image *foto sang Kaisar dengan Ratunya, Haile Selassie & Menen I…”Reggae music is royal music” jagalah wibawamu & wibawanya.


       Lalu ruangan berikutnya adalah puncak tur museum Addis Ababa University, ibunda saya yang duluan masuk & saya bisa mendengar reaksinya.  Beliau dengan menarik nafas yang dalam, terkejut mengucap “haaaaa… ini kamar Emperor”.  Hati bergetar & saya pun sangat gugup & ragu untuk memasuki ruang tidur Emperor.  Ratusan pikiran terlintas di benak saya “ga semua orang ada kesempatan masuk ruang dia… apa Bob Marley pernah ke sini ? setau gw ga… I am going to see the Emperor’s chamber !!!”.  Saat saya masuk yang saya rasakan sekali lagi tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya takjub bahwa saya sedang berada di ruang tidur seorang yang dilihat sebagai sosok Mesianis bagi sebagian besar Rastaman.  Nampaknya sama dengan apa yang Ibunda saya rasakan, enerji beliau masih tersisa di ruangan ini, begitu kuatnya karisma beliau.  Kami bisa bayangkan bahwa di sini lah beliau beranjak dari tempat tidur, berdo’a, bersyukur, memikirkan keluarganya, negerinya & segala cara untuk mengelolanya dengan baik.  Di sini bisa dirasakan bagaimana beliau siap untuk menjalani tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, kepala negara & sekaligus menjaga tradisi dinasti yang akan membuat Kakek Moyangnya bangga.  Terlintas di benak saya rasa sang Emperor “Apa saya cukup membahagiakan rakyat? apakah rakyat Etiopia cinta dengan diriku? Sejahtera kah mereka? Apa saja yang saya bisa lakukan bagi Etiopia?”.  Di ruangan ini lah, kamar tidur sang Emperor saat ia melihat fajar saat dirinya bangun. Di ruangan ini lah, di mana beliau membawa segalah masalah negerinya yang belum dipecahkan ke alam mimpi.  Di ruangan ini lah, di mana Ia menuangkan segala isi hatinya kepada sang Maha Esa saat berdo’a.  Saksi bisu hanya lah tembok & pintu yang tahu cerita-cerita sang Diraja.  Saya takjub, terharu & bersyukur.

 

image *di ruang tidur sang Diraja, Yang Mulia Haile Selassie I Etiopia Ras Tafari.  Bob Marley yang mencintai sosok beliau tidak pernah menjejaki ruangan ini.

image

si Singa Sakti, Lion of Judah… AMBASSA !!!

image

 

       Saya tidak banyak bicara saat berada di ruangan ini, hanya merenungkan & memfokuskan segala pikiran kepada sang Kaisar.  Namun guide museum kami menjelaskan bahwa lukisan besar sang Emperor sesuai dengan tinggi badannya yang sebenarnya, di bagian kiri terletak sebuah patung kecil “Ambassa” Lion of Judah berbentuk emas.  Lalu Ato G memanggil saya “Muhamad, come here… take picture ! ” reaksi saya melihatnya “whhhaatt? that’s His Majesty’s famous uniform”, saya sangat senang bahwa apa yang Ato G tunjuk adalah 2 seragam Kaisar Haile Selassie yang sangat terkenal.  2 seragam ini menjadi image Haile Selassie yang sangat populer dalam Reggae & pergerakan Rastafari, menunjukkan Reggae musik yang sangat militan menyuarakan pembebasan umat manusia.  2 seragam ini dilambangkan sebagai para serdadu yang siap berperang melawan Babylon dengan musik Reggae & tentunya Kaisar Haile Selassie sebagai Panglima Tertinggi yang memimpin batalion “Fight for Equal Rights & Justice”.  Ato G lalu meminta saya untuk berfoto “Hayo, foto… sambil salut!”.  Lalu , BOOM ! Saya menandakan hormat di antara 2 seragam yang dipajang. Ras Ta Far I !!!

 

image*seragam Kaisar Haile Selassie yang sangat populer imagenya di pergerakan Rastafari

imageHis Imperial Majesty Emperor Haile Selassie I Ethiopia

image

image * bekas seragam yang dipajang di bagian museum Addis Ababa University/Haile Selassie I University

image

— - —

image

*sang Emperor duduk di singgasana Daud dengan seragam angkatannya yang sangat terkenal

— - —

*patches pergerakan Rastafari menunjukkan sang Kaisar dengan seragamnya

image


 image * Boom !!! calling all Rastafari troops to di gideon battlefield !


Saat kami menelusuri ruang sosok yang Legendaris dari Etiopia, datang seorang pengurus istana yang sudah mengabdi kepada istana lebih dari setengah abad.  Ia bercerita bahwa cermin yang berada di seberang tempat tidur Emperor Selassie adalah cermin yang digunakan saat beliau bersiap-siap untuk bertugas.  Ia juga bercerita bahwa di sudut cermin sedikit retak karena serangan pasukan Fasis Italia yang ingin merampas istana Kaisar pada saat detik-detik Perang Dunia II.  Sungguh cermin ini sangat simbolis karena pada saat itu, Kaisar Haile Selassie dikritik habis-habisan soal tindakan beliau saat Etiopia diserang lagi oleh pasukan Italia.  Kaisar Haile Selassie dicekam sebagai seorang yang kabur & meninggalkan negerinya saat diserang oleh pasukan.  Ia dikritik bahwa Emperor Menelik, kakeknya menghadapi langsung pasukan Italia & bertempur mati-matian di “Battle of Adwa”, ia dilihat sebagai sebuah tindakan seorang pemimpin yang “lari” saat rakyatnya tak berdaya menghadapi serang Mussolini & pasukan fasisnya.  Ya, mungkin penilaian buruk terhadap tindakan sang Emperor adalah fitnah yang tidak ingin mengerti apa yang Kaisar sedang pikirkan saat itu.  Karena era “Exile” atau pengasingan Haile Selassie dari tahta akibat serangan Italia bukan sebuah tindakan pelarian dari masalah bagi saya.  Beliau pada masa “exile” berjuang untuk mengajukan sebuah gagasan yaitu “collective security”, di mana negara-negara besar bisa mencegah sebuah serangan seperti apa yang dilakukan Fasis Italia terhadap Etiopia.  Sang Kaisar menyuarakan gagasan tersebut pada tahun 1936 kepada “League of nations”/ Liga bangsa-bangsa, cikal-bakal PBB.  Peringatan beliau bahwa bahayanya fasisme & rasisme tidak didengar oleh League of Nations, ia berkata bahwa bilamana Etiopia tidak dibantu menghadang pasukan Fasis Italia maka dunia akan menghalami hal yang sama.  Saat pidato & gagasan disampaikan, delegasi Italia pun yang hadir mengejek sang Emperor secara terang-terangan di konferensi tingkat tinggi League of Nations.  Namun sang Kaisar tetap tenang & melanjutkan pidatonya; bias dilhat bahwa rezim Italia bersikap bagai seorang “Bully” kepada negara yang lebih kecil.  Pada saat itu Italia adalah anggota League of Nations, sang Kaisar member peringatan bahwa sebuah bangsa tidak bisa berbuat semena-mena menyerang bangsa lain.  Beliau ingin League of Nations bertindak & mencekam perbuatan Italia.  Kata-kata Kaisar Haile Selassie I yang sangat terkenal adalah ” Today, Ethiopia. Tomorrow, the world !!!”.

image *Kaisar Haile Selassie saat berbicara di hadapan League of Nations tahun 1936. mengajukan gagasan Collective Security atas serangan Italia terhadap Etiopia

 

       Pada 6 Oktober 1968, beliau menegaskan kembali kepada PBB & tindakan mereka yang hanya diam-diam saja saat Etiopia diserang.  Pidato beliau ini sangat terkenal yang berisi soal perikemanusiaan, anti-rasisme & kesetaraan umat manusia.  Pidato sang Kaisar cukup dikenang bagaikan pidato legendaris Presiden Soekarno “to build the world anew/membangun dunia baru” di hadapan PBB berapa tahun sebelumnya.  Kaisar Haile Selassie menyampaikan kembali collective security di hadapan delegasi PBB 6 Oktober 1968.

 

“27 years ago as Emperor of Ethiopia, i mounted the rostrum in Geneva, Switzerland to adress to the League of Nations & appeal for the relief from the destruction which have been unleashed against my defenceless nation by the fascist invader. I spoke then, both to & for the conscience of the world.  My words went unheeded but history testified to the accuracy of the warning that I gave in 1936.”

 

“27 tahun yang lalu sebagai Kaisar Etiopia, saya menyampaikan kepada para delegasi & hadirin di Liga Bangsa-Bangsa untuk bertindak atas serangan yang telah dilampiaskan oleh pasukan Fasis italia terhadap negeri saya.  Saat itu, saya berbicara kepada & untuk hati-nurani umat manusia di dunia.  Kata-kata & peringatan saya tidak didengarkan tetapi sejarah telah menyaksikan tepatnya apa yang terjadi di dunia setelah saya beri peringatan tersebut pada tahun 1936.”  Demikian kata-kata diRaja saat berbicara di hadapan PBB pada tahun 1968, menariknya jika ditelusuri memang betul kekuatan Fasis Itali Mussolini mulai meraja lela menyerbu ke mana-mana setelah menyerang Etiopia sesuai apa yang Emperor peringatkan kepada dunia. Sebagian besar Eropa pun jatuh di tangan Hitler & Nazisme yang sangat keji.  Yang lebih menarik lagi, fasis Italia menemukan ajalnya di Etiopia; semua kekuatannya akhirnya ditumbangkan oleh pasukan Etiopia yang dibantu oleh Inggris (satu-satunya sekutu Etiopia pada saat itu).  Kita tahu nasib il Duce Mussolini saat ia kalah perang namun tidak ditegaskan sebagai pengetahuan umum bahwa rezim Mussolini jatuh mencoba menguasai “negeri kecil” di Afrika.  Benito Mussolini jatuh di Etiopia & oleh Etiopia !

image*foto dari surat kabar era Perang Dunia II, terlihat sosok Musollini yang gentar alam tidurnya dihantui oleh Sang Kaisar

image *sang Kaisar di tengah medan pertempuran saat menang melawan Italia.  beliau terlihat mengangkat kakinya di atas rudal.  Legenda Etiopia menceritakan bahwa beliau berkata “Alat penghancur ini tidak akan meledak di negeriku!” saat melakukan pose di foto tercantum

image *Saya difoto dengan Ato Mamo Haile Ergette, pelaya Istana yang telah mengabdi lebih dari 50 tahun

image *Lion of Judah di uang tidur Emperor Haile Selassie I

image *kaca cermin yang retak diserang Fasis Italia

image

image

*berbagai medallion, pangkat & tanda Jasa saat kerajaan dinasti Sulaiman Haile Selassie. yap, Reggae banget ya ???

image

— - — seragam Haile Selassie yang sangat terkenal juga, beliau sangat gagah di foto ini

image


 

       Konon fasis Italia menyerang karena ingin merampas segala kekayaan yang dimiliki Etiopia terutama warisan kebudayaannya yaitu dinasti Sulaiman.  Ada teori lain Italia ingin merampas “The Ark of the Covenant”, Tabut Zakina yang berisi tablet-tablet Nabi Musa.  Tabut Zakina konon berada di Axum, bagian utara Etiopia, legenda menyatakan bahwa Nabi Sulaiman lah yang menyembunyikan Tabut Zakina & hanya ia yang menduduki singgasana Daud akan tahu di mana keberadaan Tabut Zakina tersebut. Siapa yang menduduki tahta Daud pada saat fasis Italia menyerang pada tahun 1936 ? Ya, Sang Kaisar Haile Selassie.  Kemungkinan salah satu sebab beliau pergi dari Etiopia adalah untuk menjaga rahasia Tabut/the Ark, ya tetapi kita tak akan tahu sebenarnya apa.  Setiap kali saya mendenger soal sejarah perang Italo-Ethiopia saya selalu ingat kata-kata sang Emperor “ Even in the 20th century with faith, courage & a just cause (justice), David will still beat Goliath”.  Suatu pernyataan bahwa “Di dalam abad ke-20, sang raksasa Jalud (Musollini) tetap dikalahkan oleh Daud”.  “Daud” yang ia maksud memiliki makna bermakna bagi saya, bisa dimaksud “negeri kecil/Etiopia” atau “Daud” yang menduduki tahta Daud.  Apa pun maknanya secara jelas “David will still beat Goliath”.


http://www.youtube.com/watch?v=_fiDDOs60ew

PERNYATAAN BELIAU SOAL “DAVID WILL STILL BEAT GOLIATH” BISA DILIHAT DI SINI DALAM BENTUK VIDEO




image

4

A Journey to Ethiopia bab 3 - Menuju Addis Ababa University

a Journey to Ethiopia Bab 3 - Menuju Addis Ababa University

 

” I BEING UPON THE SEAT OF DAVID TO WHICH I WAS BETHROTHED WILL, BY GOD’S CHARITY WATCH OVER YOU.  I SHALL GOVERN YOU BY THE LAW & ORDINANCE THAT HAS COME HANDED DOWN FROM MY FATHERS” - Emperor Haile Selassie I the First of Ethiopia

 image

          “Saya di singgasana David (Raja/Nabi Daud) di mana saya diberi kekuasaan & keputusan dengan berkah-anugerah Sang Maha Esa, semoga melindungimu.  Dengan tahta ini saya akan memimpin sesuai undang-undang & hukum yang telah didirikan & diwariskan oleh Kakek Moyang Saya.” begitulah kata-kata Ras Tafari Makonnen saat beliau bersumpah menjaga tradisi kemuliaan Kerajaan Etiopia yang telah ribuan tahun lamanya berdiri.  Pada 2 November 1930, beliau menduduki tahta tertinggi kerajaan Etiopia sebagai Kaisar Haile Selassie, Emperor, Raja segala Raja Afrika.  Upacara kenegaraan ini berupa peresmian seorang putra Afrika menduduki tahta dari kerajaan tertua di Afrika bahkan bisa disebut seluruh dunia,  konon kerajaan Etiopia dibangun oleh legenda pernikahan King Solomon (Raja Salomo/ Nabi Sulaiman) & Ratu Seba (Makeda/Balqis).

 

image 
jalanan Addis Ababa yang cukup bersih, langit yang surgawi biru.

 

          Demikian kata pembangunan sangat penting di Etiopia, dari jaman dinasti Solomon Etiopia hingga era federalisme sekarang.  Saat saya, Ibunda, kawan Chandra & juga ditemani Ato G kami menelusuri napak tilas sang Emperor,  saya mencoba menikmati apa yang bisa ditawarkan oleh Ibu Kota ini.  Dibanding DKI Jakarta, Addis Ababa bebas macet & relatif bersih disamping pembangunan jalan & gedung-gedung tinggi baru.  Apa yang kita bayangkan sebagai sebuah kota besar ada di Addis Ababa seperti jalur tol, pencakar langit, transportasi umum, mall & lain-lainya.  Bahkan ada suatu yang bisa dibanggakan di Addis Ababa, pengunjung & penduduk sanggup jalan kaki ke mana-mana ketimbang Jakarta yang padat dengan asap polusi yang menyesakkan & sangat tidak sehat. 

 

          Melewati jalan Mexico Square lalu ChurchHill Road, kami menuju ke sebuah Universitas bernama “Addis Ababa University”.  Sebetulnya Addis Ababa University bukan salah satu tujuan kami di Etiopia,  tetapi saya & Ibunda sangat senang apa yang kita bisa dapat saat mengunjungi universitas negeri ini; itu berkat percakapan kami dengan Daniel seorang pemuda Etiopia sehari sebelumnya, ia menganjurkan kami untuk mengunjungi Addis Ababa University.  Menuju A-A U, saya bisa lihat sisa-sisa kerajaan Etiopia & lambang-lambangnya seperti Singa Sakti Yehuda yang orang Etiopia sebut “Ambassa” yang berarti Lion/Lion of Judah dalam bahasa Amharik.  Iya, Reggae mengambil banyak simbolisme dari negara ini.  Bahkan 2 istana di ibu kota yang sekarang diduduki oleh seorang Presiden & Perdana Menteri pagar-pagar & gerbang masuknya masih dikhiasi lambang “Ambassa”.  Jika diperhatikan bintang Daud (tidak disamakan dengan bintang negara Israel) masih tersebar di berbagai sudut Addis.  Bintang Daud ini atau “Solomonic Star” melambangkan bahwa kerajaan Etiopia berasal dari garis turun Sulaiman ribuan tahun yang lalu, di mana Nabi Sulaiman/Solomon adalah Putra kandung David/Daud.

 

image istana kepala negara Etiopia saat ini, bekas peninggalan dinasti Sulaiman masih tersisa

image

— - —

pagar Perdana Menteri Etiopia sekarang, dulu ini dinamakan Jubilee palace Istana Kaisar Negara Haile Selassie.  Terlihat lambang Dinasti Sulaiman Etiopia, Ambassa/Singa/Lion of Judah lengkap dengan mahkota masih tersisa hingga kini.

image


image



 

          Tetapi mungkin ada yang sedikit janggal bagi pembaca budiman saat membaca catatan ini.  Apakah Etiopia saat ini memiliki Raja atau seorang Presiden?  Sedikit pengetahuan sejarah bahwa monarki Etiopia yang kian lama telah berdiri digulingkan oleh sebuah Kudeta komunis yang terjadi pada tahun 1974, kudeta ini didukung penuh oleh Soviet agar benua Afrika terisi kekuatan tri-tunggal rezim komunis.  Mozambique, Angola & Etiopia adalah strategi Soviet agar benua Afrika terbelenggu rezim palu-arit.  Kerajaan bergeser ke tangan komunis yang dipimpin oleh seorang Haile Mengistu Miriam dari tahun 1975 hingga 1990, korban pun tidak sedikit akibat kebijakan pemerintahan ala Soviet ini.  Bahkan akibat segala berita buruk dari Etiopia yang disebabkan Derge (faksi komunis Etiopia),  musisi Indonesia legendaris Iwan Fals pun menciptakan sebuah karya yang berjudul “Etiopia”. 

         

          Ya, mungkin Indonesia jarang mendengar hal-hal manis soal Etiopia.  Mungkin kita sudah terkondisi dengan apa yang kita lihat di dalam surat kabar, radio & televisi.  Mungkin saja tembang-tembang Reggae yang menyuarakan kegemilangan Etiopia Afrika sebelumnya kita belum pernah dengarkan.  Namun saya sebagai Duta Reggae Indonesia mengutip seorang Duta Reggae pertama yang menduniakan musik yang saya cintai ini.  “Half that story has never been told” itu apa yang disampaikan oleh Bob Marley di dalam lagu “Get up, Stand up” yang dimaksud bahwa “sepenggal cerita & kebenaran tidak pernah disampaikan seluruhnya”, maka napak tilas yang saya lakukan ini agar kita lihat jauh sebelum masa Derge, sebelum berita “tangis & kelaparan”.  Saya ingin memberi sedikit bahan bakar kepada api kejayaan Etiopia, kejayaan dari Negus Menelik pertama/Daud Kedua, Negus(Raja) Al-Asham, Negus/King Lalibella, Ratu Seba Makeda, Negus Menelik II, Ras Makonnen hingga Yang Mulia Negus Nagast Haile Selassie.

 

          Pendidikan adalah obor yang mencerahkan sebuah bangsa untuk bangkit dari zaman kegelapan.  Para pendiri Republik kita percaya dengan obor itu & pastinya seorang pemikir progresif seperti Kaisar Haile Selassie sadar juga dengan hal itu bagi rakyat Etiopia.  Tidak heran Ayahndanya Haile Selassie, Ras Makonnen membangun beberapa sekolah.  Yang masih tersisa yang saya sempat lihat dalam perjalanan menuju A-A U adalah sebuah sekolah dasar yang dibangun Ras Makonnen, tentunya tata bangunan sekolah terlihat seperti sebuah istana.  Atau apakah itu memang sebuah istana ?  Renungan saya soal sekolah dasar Ras Makonnen tidak bisa lama-lama karena segala perhatian & fokus kami teralihkan ke depan gerbang Addis Ababa University.  Kami tiba di depan gerbang namun saya baru sadar “yowwww… gokil ! gw tau tempat ini… !”  saya berpikir dengan hati yang melompat-lompat “gw sering lihat gerbang ini di sampul-sampul album reggae… gw punya t-shirt ini… t-shirt Haile Selassie I University… ini Haile Selassie I University !!!”.  Ibunda saya pun terkesan, ia bilang “Wah, patung singanya… megah sekali”.

 

imagefoto gerbang masuk Addis Ababa University dari kamera pribadi saya

imagesinga & bingtang Solomon/Sulaiman menanakan saya sedang berada di tanah diraja… the King’s Land !!!


image  mahasiswa kehidupan seumur hidup ! Duta Reggae Indonesia Ras Muhamad di Addis Ababa Etiopia. Boom !

 

          Lengkap dengan patung Singa/Ambassa & ukiran Solomonic Star, gerbang pun menyambut kita masuk.  Terlihat bahwa para mahasiswa Universitas ini baru saja menyelesaikan kelas & hendak istirahat saat kami menuju gedung utama universitas Addis Ababa.  Saat kami tiba di area gedung utama, saya perhatikan di atas anak tangga menuju pintu masuk gedung ada lambang Ambassa/Lion of Judah & juga “Coat of Arms” lambang negara Etiopia saat era dinasti Solomon.  “Coat of Arms” ini terdiri dari singa & sebuah tahta yang disebut “Throne of David”/ Tahta-Singgasana Nabi Daud, ada 2 malaikat yang menjaga tahta tersebut.  Saya pun memiliki kaos “Coat of Arms” Etiopia ini yang saya dapatkan sewaktu kesana-kemari di New York City & melihat lambang negara ini secara langsung, tidak ada kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan saya saat itu. 

 

image  di gedung utama Addis Ababa University.

— - —

image

 

          Lalu mengapa banyak sekali lambang dinasti Solomon Etiopia di universitas ini jika dinasti telah sirna 40 tahun lamanya ?  Iya, ini bukan lah gedung universitas biasa.  Addis Ababa University yang pada era dinasti Solomon dinamakan Haile Selassie I University itu tidak bisa disamakan dengan Universitas Bung Karno & Universitas Nasional-nya Sutan Takdir Ali Syahbana.  Di mana kedua universitas di Indonesia tersebut dibangun dari tanah kosong ke atas, gedung utama Addis Ababa/Haile Selassie I University ini adalah istana yang digunakan oleh sang Emperor !  His Imperial Majesty Haile Selassie I menyumbangkan istana ini agar mahasiswa bisa menempuh pendidikan lebih tinggi.  Bayangkan wakil rakyat Republik Indonesia yang sibuk memaksa agar anggaran negara mengeluarkan milyaran rupiah untuk pembangunan gedung-gedung baru sebagai “fasilitas negara” BUKAN untuk digunakan publik.  Di sejarah Etiopia, ada seorang kepala negara, seorang Raja, seorang Emperor yang menyumbangkan istana, tempat tinggalnya sendiri agar digunakan untuk masyarakat umum, rakyat jelata & mahasiswa yang ingin belajar mencerdaskan diri.  Andai bangsa kami, rakyat biasa bisa memijakkan kaki di Istana Merdeka, Istana Negara & Istana Bogor mungkin kami bisa merasakan sedikit seperti apa kah tempat tinggal seorang kepala negara. Emperor Haile Selassie I Ras Tafari telah mewujudkan tersebut dengan menyumbangkan istananya yang bernama “Gannata Leul Palace” ini.

4

A Journey to Ethiopia, Bab 2 

Etiopia adalah salah satu negeri tertua di benua Afrika & telah ada sejak awal peradaban manusia.  Negeri yang dahulu memiliki nama Abyssinia kini memiliki 30 juta umat Islam dari 80 juta penduduknya yang bermayoritas memeluk agama Ortodoks Nasrani.  Dikatakan bahwa saat hijrah muslimin pertama saat zaman Rasul, sang Negus (gelar Raja diraja Etiopia) Al-asham menjadi Mualaf setelah menerima surat dari Rasul.  Di saat itu, Etiopia satu-satunya negeri yang masih teguh menjalani keimanan Tauhid; tak heran bahwa agama Ortodoks di Etiopia memiliki istilah yang lain ”Tawahedo” yang bisa disama artikan dengan Tauhid.  Daerah yang terjadinya hijrah bersejarah ini adalah Harar, di mana tempat ini lahirnya seorang Tafari Sekou Makonnen pada 23 Juli, 1892 yang di kemudian hari menjadi Raja diraja Yang Mulia Haile Selassie Ras Tafari Kaisar Etiopia.

Haile Selassie adalah tokoh pusat pergerakan Rastafari, bisa dilihat bahwa pergerakan ini dinamakan setelah gelar beliau sebagai Ras (Pangeran dalam bahasa Amharik Etiopia) Tafari.  Beliau pun pada awal abad ke 20 dilihat sebagai pemimpin kaum kulit hitam, di mana akan ada harapan bangkitnya kembali Afrika di dalam kepimpinan Haile Selassie I.

image  Tafari Makonnen sebelum gelar Ras & Negus Haile Selassie.


image  sebagai Negus Nagast Etiopia (Raja diraja) Haile Selassie

                Di negerinya beliau adalah seorang legenda & bekas jejak sang Raja bisa ditemukan bila ada keinginan untuk menulusuri awal sejarah yang menjadi fondasi Rastafari & inspirasi musik reggae.  Tidak lama-lama menunggu saat kami tiba di Addis Ababa, Ibu Kota Etiopia pada malam hari;  esok paginya kami langsung menuju ke tanah Shashamene !

http://www.youtube.com/watch?v=PP_Jgly148g

(simak lagu reggae Junior Kelly soal Etiopia & Shashamene di link youtube tersebut)

                Shashamene adalah sebuah daerah di Etiopia, 250 km jaraknya dari Addis Ababa.  Bagi pecinta Reggae sejati,  daerah ini sangat terkenal karena Shashamene adalah tanah yang diberikan langsung oleh Kaisar Haile Selassie pada 1948 agar diaspora Afrika yang ingin kembali ke Etiopia memiliki tanah tinggal.  Maka saya harus melihat tanah legendaris pemberian Kaisar Haile Selassie ini dengan mata sendiri.

                Perjalanan ke arah Shashamene cukup panjang akibat adanya konstruksi yang menyita waktu lebih dari 3 setengah jam.  Berangkat pada siang hari ditemani kawan Chandra yang berkerja sebagai sekretaris di Kedutaan RI untuk Etiopia,  rombongan berangkat dengan 2 mobil.  Singkat cerita dengan perjalan kami menghadapi macet yang tidak diduga, kami tiba di Shashamene pada malam hari.

               image

beberapa pemandangan dari kota Addis Ababa menuju ke Shashamene, Etiopia diambil oleh Ras Muhamad Duta Reggae Indonesia

image

berkibarnya tri-warna merah, emas, hijau sebagai bendera nasional Etiopia.


image

huruf Amharik, bahasa Etiopia.  saya mengambil gambar ini saat perjalanan menuju dari Addis Ababa ke Shashamene.



               Baru esok paginya kami bisa merasakan bahwa kami di tanah Afrika, di Shashamene, Etiopia !  Dengan tempat tinggal yang berbentuk gubuk khusus Afrika di satu tempat beristirahat bernama ”Zion train lodge”.  Tempat ini tak jauh dari warna merah, emas & hijau tri-warna dasar bendera Etiopia.  Kami pun menikmati hidangan ital untuk sarapan.  Ital adalah istilah diet Rastaman yang bisa disebut vegetarian, ditemani teh buatan Etiopia ”Addis tea” saya mencoba menghirup udara segar Afrika sedalam-dalamnya.  Masih sulit percaya saya bisa berada di sini, kanan-kiri foto & lukisan sang Kaisar Legendaris Haile Selassie di mana-mana,  berserta penganggum besarnya yaitu Raja Reggae Bob Marley.

image

pemandangan Shashamene Etiopia dari kamera pribadi saya, Ras Muhamad.

image

Iyaaa !!! diriku sedang berada di Afrika.  Praise unto JAH, aku berada di Shashamene.



image

menunggu sarapan “Ital” saat di Zion Train Lodge, Shashamene Etiopia Afrika

image

Gambar sang diraja, Kaisar Haile Selassie Rastafari Etiopia

               

             Ada sebuah hal yang menarik di Etiopia, Santos George sangat dicintai.  Dikatakan dalam tradisi Etiopia bahwa santos ini menaklukan sang iblis yang berbentuk naga.  Bisa dilihat juga dari sampul albumnya Bob Marley yang ”Confrontation” bahwa beliau terinspirasi dari tradisi Etiopia ini.  Lucunya tradisi ini menjadi image branding untuk sebuah bir dengan nama ”St. George Beer”

image

gambar santos George di Shashamene, Etiopia. Zion train lodge

image

sampul album Bob Marley & the Wailers “Confrontation” terinspirasi oleh tradisi legenda Etiopia, Santos George melawan sang naga.

                Di saat selesai sarapan di Zion train Lodge, ada beberapa pemuda yang berbincang dengan saya.  Mereka bercerita bahwa Shashamene adalah sebuah kebanggaan bagi mereka & pergerakan Rastafari yang telah mempengaruh kehidupan pemuda di sini.  Mereka bilang kepada saya “Welcome to Shashamene. The promised land, Zion, New Jerusalem !” yang dimaksud mereka adalah tempat yang telah disediakan oleh Haile Selassie agar bangsa Afrika yang tersebar di dunia akibat perbudakan & kolonialisme kembali ke tanah asal-muasalnya.  Bagaikan “Exodus” Nabi Musa, Etiopia dilihat sebagai Zion, Yerusalem baru untuk bangsa Afrika.  Filosofi ini soal “exodus & repratriation” adalah gagasan Marcus Garvey yang juga sempat membuat kapal laut raksasa bernama “Black Star Line” agar kaum kulit hitam betul-betul pulang kembali ke Afrika & bukan sebatas omong kosong saja.

image

dengan pasangan Rasta dari Perancis, mereka pemilik usaha Zion train lodge yang betul-betul hijrah ke tanah yang diberikan di Etiopia oleh Kaisar Haile Selassie. berpose dengan lambang bintang Solomon, saya Ras Muhamad, Queen Sandrine & Ras Alex. Boom !!!

image

 berpose untuk kamera pribadi Ras Muhamad … waaaaaw ! panjang sekali rambut dreadlock-mu Ras Alex.  23 tahun memanjangkan rambut dreadlock katamu Ras Alex.  Respect ! this is real Natty Dread ! bukan gaya atau fashion.  di dalam bahasa Jamaika… Tall Natty ! Dreadlock super panjang !  niiice !!!

                Ini lah yang dimaksud dari lagu Bob Marley “Exodus” yang terinspirasi oleh gagasan Marcus Garvey, pahlawan nasional Jamaika.

“Exodus ! (hijrah) movement of Jah people… we know where we’re going, we know where we’re from.

We’re leaving Babylon. We’re going to our Father’s land.”

                “Hijrah! berpindahnya insan Ilahi.  Kami tahu mau ke mana, karena kami sadar dari mana kami berasal.  Kami tinggalkan Babylon (tempat yang telah menindas bangsa Afrika) , kita menuju ke tanah Ayahnda”  ungkap Bob Marley dalam lirik lagunya Exodus.  Sekali lagi beliau mereferensikan Father/Ayahnda sebagai Kaisar Haile Selassie yang telah dinobatkan sebagai Raja diraja seluruh Afrika.  Bob Marley terinspirasi oleh hijrah ke tanah Shashamene, sosok Haile Selassie & Etiopia sebagai tanah perjanjian.  Bisa diperhatikan di sampul album Bob Marley “Exodus” huruf-hurufnya berbentuk font Etiopia.  Jeniusnya Bob Marley adalah ia mampu mengatakan semua itu dengan secara halus soal hijrah, Etiopia & Kaisar Haile Selassie hingga yang mendengarnya tidak menafsirkannya secara hitam & putih.  Jadi di balik semua melodi manis dari Bob Marley, anda akan temukan ETIOPIA.


image

                Saya pun menafsirkan lagu Exodus & gagasan Marcus Garvey secara pribadi agar berpulang kembali ke tanah air Indonesia yang telah saya tuangkan rasa rindu itu dalam sebuah tembang ”Leaving Babylon”




image

dengan beberapa pemuda Shashamene Etiopia saat di Zion train lodge Afrika


image

berpose sedikit di ruang makan siang Zion train lodge, Shashamene Afrika Etiopia.  di kanan fotonya Kaisar Haile Selassie & di kiri Marcus Garvey, pahlawan Jamaika


image

koleksi dari Banana Art Gallery Museum, saya langsung foto ini karena cukup terkejut dengan adanya majalah ini saat jaman kerajaan Etiopia.  waw, Respect untuk Rastaman yang mengkoleksi majalah ini


image

ini fotonya keren banget.  Kaisar Haile Selassie nampak damai & berwibawa

image

foto di Banana Art Gallery, Shashamene Etiopia Afrika. mantap, pemiliknya. foto sang Kaisar Haile Selassie di bangkai dengan majalah Etiopia Mirror dipajang.  Boom !

image

koleksi banana art gallery museum di Shashamene Etiopia. perhatikan medal kerajaan Etiopia Kaisar Haile Selassie Rastafari ini… SINGA, MERAH-EMAS-HIJAU, TOMBAK & BEDIL !  untung saya bisa foto ini karena medal yang lainnya dilarang difoto.

                Berbagai macam cabang ”Houses of Rastafari” yang telah hijrah ke Shashamene dari Twelve tribes, Bobo Shanti & Nyabinghi order.  Anda bisa menelusurinya saat berada di Shashamene.  Tetapi ada sesuatu yang menarik yang ingin saya tanya.  Pertanyaan itu bagaimana seorang Etiopia memandang sang Kaisar, Haile Selassie.  Pertanyaan itu pun saya lontarkan kepada kawan yang sabar mendampingi kami kesana-kemari di Etiopia, ia seorang lelaki bernama Garasu berumur 50-an.  Saya memanggilnya secara akrab dengan ATO G, Ato yang berarti Bapak dalam bahasa Amharik Etiopia & G dari singkatan namanya.  Ia bercerita bahwa di masa kerajaan Etiopia, kehidupan rakyat terjamin, makanan murah, petani makmur & pendidikan gratis; ini berkat sang Emperor yang ingin memajukan negerinya.  Garasu pun bangga pada saat itu bahwa Etiopia memiliki sebuah pemimpin besar yang sangat dipandang & disegani oleh dunia.  Yang saya tangkap Ato G terasa rindu dengan jaman keemasan itu saat Kaisar Haile Selassie berkuasa karena kini setelah hilangnya system kerajaan di Etiopia, 2 pemerintahan seterusnya kurang menjaminkan kehidupan rakyat.  Ato G bilang dulu 1 bhirr (mata uang Etiopia) sama dengan 1 dollar Amerika yang kini menjadi 18 bhirr.

 

image


saya dengan Ato G, Garasu di Awasha Etiopia

                Coba direnungkan bahwa ada berbagai kesamaan dengan rindunya rakyat Etiopia kepada Kaisar Haile Selassie & rindu bangsa Indonesia terhadap seorang karismatik & berwibawa seperti Presiden pertama Indonesia Sukarno.  Di dalam catatan ini yang akan terbagi beberapa bab, anda akan menemukan rasa rindu itu lagi berkali-kali saat saya di Etiopia.

                Sebagai penutup bab ini, ada cerita lucu soal merah, emas & hijau-nya bendera Etiopia.  Saat kami menuju daerah Awasha dari Shashamene,  kami meliat pelangi kecil.  Ato G berkata “itu… itu… warna bendera kita (merah, emas, hijau).  Kita mendapat warna bendera Etiopia dari langit-langit… warna itu pemberian dari Tuhan… a Gift from God”  Subhanallah, melihat pelangi di rainbow country laksana Bob Marley sedang melantunkan lagu “Rainbow Country” di dalam benak saya.

image

warna pelangi, inspirasi untuk bendera Etiopia.  saya sempat mengambil gambarnya saat perjalanan Shashamene ke Awasha, Etiopia

image

di hotel Haile Resort, sebelum saya masuk ke dalam lobinya.  Hotel ini berada di Awasha, Etiopia.  sekali lagi, pelangi menampakkan warnanya & memberkahi pemandangan.  Bless !!!

(masih banyak bab yang akan dimuat soal catatan perjalanan saya di Etiopia, Afrika.  saat ini silahkan nikmati lagu Bob Marley yang Rainbow country di

http://www.youtube.com/watch?v=NqAdW0lt6W8

image

pemandangan indah di Afrika yang tak terhitung beberapa kali saya keluarkan kamera untuk memotret.  ini daerah Awasha, Etiopia melalui lensa kamera pribadi saya.  no joke ! saat ini timbul hobi memfoto hahaha.

image

sebatas dapat foto dari internet.  Warriors rise !!!

4
3

FROM JAVASOULNATION TO MAGNUM URBAN JAZZ CROSSOVER

YES MASSIVE! memang cukup luar biasa enerji yang tercurahkan saat kami di atas panggung di JavaSoulNation pekan lalu, tepatnya 23 September 2011.

sekali lagi terima kasih atas dukungan dari semua yang telah datang, para penyelenggara & saudara-saudara musisi.  Big up Daddy T & Jozzi Gesiradja Indonesian Rice, the Easy Skankin’, management Dipa Kalbuadi.

live video performance akan segera kami upload & tahap demi tahap foto-foto show tersebut akan bisa dilihat lebih banyak… just you wait,massive.

NEXT, setelah JavaSoulnation… Duta Reggae Indonesia menggetarkan Magnum Jazz Crossover.  jadwal & kota pertama 30 September ini… MEDAN!!!

see you guys! meanwhile enjoy the pics in “GALLERY” & jangan lupa untuk saksikan video klip “Prosa Tinju Lima Jari” di website ini. Bless!!!

image

2

Give Thanks to everyone that supported us in JAVASOULNATION FESTIVAL !!! BIG UP the musicians, The Easy Skankin’ Band, Daddy T & Jozzi Gesiradja Indonesian Rice.
SPECIAL THANKS to Glenn Fredly for the Special performance, “Tanah Perjanjian”.
TRULY A REGGAE PARTY !!!

Java SoulNation, LAAARRRRGGEEE UP !!!

big reggae showtime in JAVASOULNATION FESTIVAL 2011, SEPTEMBER 23

Daddy T, Ras Muhamad, Jozzi Gesiradja Indonesian Rice & the Easy Skankin band… rocking the house in Soulnation. Big up JavaSoulnation BOOM-YAH!

1

Confirmed : Ras Muhamad & Daddy T Indonesian Rice alongwith the Easy Skankin Band will be rocking the vibez this Friday 23 September !!! get your tickets !!!

1
1

Equal Rights & Justice for all” / Keadilan & Hak setara bagi semua

Rembering Peter Tosh (19 Oktober 1944 - 11 September 1987)image

1